Bersiap Menghadapi Krisis Lingkungan melalui Pertanian Organik

Reza Bangun Mahardika - Minggu, 13 Juni 2021 | 05:57 WIB

Bersiap Menghadapi Krisis Lingkungan melalui Pertanian Organik

“Perubahan iklim” tidak mampu merefleksikan betapa seriusnya krisis lingkungan yang akan terjadi. Istilah “krisis iklim” lebih tepat dan nyata. Emisi dari Gas Rumah Kaca Indonesia telah meningkat 42% sejak pergantian abad (OECD, 2019 hal.28). Emisi tersebut diproyeksikan tumbuh lebih cepat selama 15 tahun ke depan di bawah skenario business as usual (KLHK, 2018 dalam OECD, 2019 p.28). Bill Gates bahkan menyampaikan “menyelesaikan COVID merupakan hal yang mudah dibandingkan iklim” (Rowlatt, 2021).

Ekspansi sektor pertanian terhadap hutan dan gambut, penggunaan sumber daya dan polusi yang berlebih memberikan tekananan yang serius terhadap sumber daya alam Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (2018) menunjukan bahwa sektor pertanian menyumbang 14% sumber emisi gas rumah kaca, hanya lebih rendah dibandingkan sektor energi sebesar 65%.

Sektor pertanian merupakan sektor vital di Indonesia, dilihat dari kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan. Pada Triwulan I-2021, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan berkontribusi 13,17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, hanya lebih rendah dibandingkan industri pengolahan sebesar 19,84%. Sektor pertanian turut menunjukan ekspansi lahan, dimana luas area pertanian meningkat hingga 10% diantara tahun 2005 dan 2016 (FAO, 2018). Sejalan dengan ekspansi tersebut, konsumsi pupuk turut meningkat. Aplikasi pupuk potash (terutama untuk kelapa sawit) dan pupuk phosphate (untuk kelapa sawit dan beras) hampir meningkat 3 kali lipat selama tahun 2005 sampai 2016 (OECD, 2019). Pupuk Nitrogen, yang menjadi pupuk yang paling sering digunakan turut meningkat hingga 23% (OECD, 2019). Terdapat beberapa temuan penggunaan pupuk yang berlebihan di berbagai daerah, salah satunya di pulau Lombok (KLHK dan GIZ, 2017). Hal tersebut tentu tidak terlepas dari kebijakan subsidi pupuk yang dilakukan Indonesia. Studi dari Bank Dunia turut menunjukan bahwa subsidi pupuk “memakan” 25-30% dari total pengeluaran pemerintah untuk sektor pertanian (Bank Dunia, 2020).  

Bersiap Menghadapi Krisis Lingkungan melalui Pertanian Organik Bersiap Menghadapi Krisis Lingkungan melalui Pertanian Organik

Bersiap Menghadapi Krisis Lingkungan melalui Pertanian Organik