Budidaya Lorong dan Teras Gulud Sebagai Kombinasi Konservasi Vegetatif dan Mekanik pada Lahan Kering di Indonesia

Kriselda Dwi Ghisela - Minggu, 9 Mei 2021 | 07:44 WIB

Mahasiswi
Budidaya Lorong dan Teras Gulud Sebagai Kombinasi Konservasi Vegetatif dan Mekanik pada Lahan Kering di Indonesia

Lahan kering merupakan suatu hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun. Lahan kering ini menjadi salah satu sumberdaya yang potensial untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia. Lahan kering di Indonesia mencapai 144,47 juta hektar dengan kondisi tanah, karakteristik lahan, dan keadaan iklim yang berbeda-beda di setiap wilayahnya. Hal ini berpotensi untuk pemanfaatan lahan kering untuk pengembangan berbagai jenis komoditi pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan dengan mengevaluasi dan memperhatikan kesesuaian lahannya (Rachman, 2017).

Menurut Sukarman dkk. (2012), luas areal yang sesuai sebagai kawasan pengembangan tanaman pangan lahan kering dapat mencapai 25,09 juta hektar, terdiri dari 22,86 juta hektar merupakan lahan kering beriklim basah yang sesuai untuk tanaman pangan dan 2,23 juta hektar merupakan lahan kering beriklim kering yang juga sesuai untuk tanaman pangan. Dari hasil data tersebut, sebagian besar dari lahan tersebut sudah digunakan berbagai penggunaan, baik pertanian maupun non pertanian. Lahan kering dengan vegetasi semak belukar, alang-alang, hutan yang dapat dikonversi dan areal penggunaan lain (APL) dapat dianggap sebagai lahan untuk perluasan pertanian.

Berdasarkan penelitian Mulyani (2006), besarnya potensi lahan kering untuk usaha pertanian terhalangi oleh beberapa faktor, yakni banyak lahan-lahan yang bergunung dan berlereng curam yang dikonversi untuk pertanian namun umumnya tanpa menerapkan teknologi konservasi tanah dan air, sehingga daerah tersebut menjadi rawan erosi, terdegradasi hingga akhirnya akan menjadi lahan kritis. Dalam arahan tata ruang pertanian lahan berlereng dengan nilai <15% dapat dijadikan kawasan pengembangan tanaman pangan dan lahan berlereng dengan nilai 15-30% dianjurkan sebagai kawasan dengan pengembangan tanaman tahunan/perkebunan. Namun, kenyataan di lapangan justru banyak lahan datar hingga bergelombang atau <15% digunakan sebagai lahan pengembangan tanaman perkebunan, dan sebaliknya lahan dengan kelerengan 15-30% atau lahan berbukit-bergunung dijadikan sebagai lahan pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini juga dinyatakan oleh Las dkk. (2014), bahwa lahan kering memiliki permasalahan nyata dari sisi biofisik yakni rendahnya kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah, rendahnya ketersediaan unsur hara akibat lahan berlereng, serta keterbatasan ketersediaan air sebagian besar. Selain itu, potensi erosi dan degradasi lahan kering masam cukup tinggi karena lebih dari 50% areal lahan berada pada wilayah berombak sampai bergunung (lereng >8%).

Gagasan

Budidaya Lorong dan Teras Gulud Sebagai Kombinasi Konservasi Vegetatif dan Mekanik pada Lahan Kering di Indonesia Budidaya Lorong dan Teras Gulud Sebagai Kombinasi Konservasi Vegetatif dan Mekanik pada Lahan Kering di Indonesia

Budidaya Lorong dan Teras Gulud Sebagai Kombinasi Konservasi Vegetatif dan Mekanik pada Lahan Kering di Indonesia