Padu Padan Vertical Farming dan Kultur Jaringan

Linda Wahyuni Putri - Sabtu, 5 September 2020 | 00:08 WIB

Padu Padan Vertical Farming dan Kultur Jaringan

Dewasa ini masyarakat kembali menyuarakan pentingnya bertani organik. Pertanian organik mengedepankan pentingnya menjaga lingkungan dan keberlangsungan hidup dengan memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan, misalnya pupuk kompos (non-sintetik). Selain itu, moderninasi pertanian menghasilkan gagasan-gagasan berupa vertical farming yang mana menitikberatkan pada pemanfaatan lahan vertical guna meminimalisir penggunaan lahan horizontal. Sehingga bertani dapat dilakukan pada lahan yang sempit dan terbatas.

Pemerintah mencanangkan konsep ketahanan pangan. Jika ditinjau berdasarkan aspek mikro, setiap rumah tangga mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk menjalani kehidupan yang sehat dan aktif. Konsep ini pula yang direalisasikan masyarakat urban -yang memiliki sisa lahan di perkarangan rumah- untuk memanfaatkan lahan tersebut menjadi lahan pertanian mini, sehingga mereka mampu memasok kebutuhan pangan secara mandiri. Berbagai jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti: selada, kangkung, paprika, tomat, cabai, bahkan buah-buahan.

Kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini berdampak pada penurunan aktivitas masyarakat, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu di rumah. Kondisi ini mendorong munculnya ide kegiatan bertani mandiri, yang tidak hanya berlaku bagi kalangan dengan kelas perekonomian menengah ke atas, melainkan juga dihadapi oleh masyarakat menengah ke bawah. Mereka berusaha memperoleh pendapatan tambahan dengan bertani sayur. Salah satu contoh yaitu masyarakat di bawah jalan tol Becakayu, Jakarta Timur. Mereka memanfaatkan lahan kosong di bawah jalan tol sebagai lahan bertani kangkung dan sawi.

Padu Padan Vertical Farming dan Kultur Jaringan Padu Padan Vertical Farming dan Kultur Jaringan

Padu Padan Vertical Farming dan Kultur Jaringan