Petani Muda Sebagai Inisiator Gerakan Sosial di Sektor Pangan Indonesia

Nitia Agustini KA - Senin, 19 Juli 2021 | 03:30 WIB

Petani Muda Sebagai Inisiator Gerakan Sosial di Sektor Pangan Indonesia

Berdasarkan data BPS (2019), jumlah petani Indonesia berdasarkan kelompok umur semakin muda semakin sedikit. Dari total jumlah petani sebanyak 33,4 juta orang, petani yang berusia di bawah 40 tahun hanya 8% saja. Lebih spesifik lagi, jumlah petani muda berusia di bawah 25 tahun hanya 273.839 orang. Dan petani yang berusia antara 25 hingga 34 tahun sekitar 2.947.254. Angka tersebut memperjelas masalah tenaga kerja di bidang pertanian yang perlu diatasi untuk mengantisipasi tantangan ketahanan pangan di masa depan. Hal ini karena jumlah penduduk dan kebutuhan pangan terus meningkat, sedangkan pekerja di bidang pertanian berkurang.

Sebagai peneliti di Forbil Institute, salah satu lembaga kajian di bidang kebijakan dan pengembangan masyarakat yang berfokus pada sektor pertanian, saya berdiskusi dan melakukan wawancara dengan banyak anak muda yang berani tinggal di desa dan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk membangun ketahanan pangan di wilayahnya. Pada kesempatan ini saya akan berbagi analisis bagaimana para anak muda ini menggerakkan ekonomi lokal berbasis pertanian. Serta bagaimana mempengaruhi masyarakat lebih luas untuk turut serta dalam kegiatan tersebut.

Secara umum, menurut Sri Hery Susilowati (2016), seorang peneliti di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, terdapat tiga faktor yang menjadi pertimbangan generasi muda untuk masuk di sektor pertanian. Pertama, yaitu produktivitas dan profitabilitas pertanian. Kedua, kesempatan yang tersedia. Dan ketiga, kenyamanan dan kepuasan atas pekerjaan tersebut. 

Petani Muda Sebagai Inisiator Gerakan Sosial di Sektor Pangan Indonesia Petani Muda Sebagai Inisiator Gerakan Sosial di Sektor Pangan Indonesia

Petani Muda Sebagai Inisiator Gerakan Sosial di Sektor Pangan Indonesia